CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Minal Aidzin Wal Faidzin


Lihat Kartu Ucapan Lainnya (KapanLagi.com)

Fine Artz

Fine Artz

Senin, 16 Juni 2008

Tentang posisi lemahku

Sebenarnya aku merasa otak kiriku cukup berkembang. Jadi mustinya aku bisa mengeset pengeluaran air mata ini dan mengharmonikan dengan logika yang kudapatkan. Pada banyak hal aku cukup bisa meng-ignore berbagai bentuk kesedihan, kekecewaan ataupun kemarahan. Bahwa apa yang ada di hadapanku pada suatu titik waktu hanyalah sebuah garis episode yang tak terelakkan, yang selalu terjadi pada siapapun, dan hanyalah sebuah garis strip dari perjalanan panjang kehidupanku. Logikaku telah menemukan solusi. But apa yang terjadi kemudian…? Air mataku sungguh tak bisa diajak kompromi. Aku ingin bisa tampil apa adanya. Bahwa aku telah memutuskan untuk bisa bertahan dan bisa tetap bergairah dan bersuka cita dalam kondisi apapun. Tapi memang air mataku tak pernah mau mensupport keputusanku. Seringkali aku merasa sedih akan air mataku. Kalau orang sering mengeluarkan air mata saat sedih, aku lebih sering sedih karena air mata yang tak terbendung. Sangat sering, saat aku sudah bisa menerima keadaan yang meliputiku, aku sudah bisa berkompromi dengan kenyataan, saat itu aku ingin hal2 berjalan normal dan wajar seperti biasa, aku sudah bertekad untuk tetap bertahan dan berteriak …

“ I’ll survive..!!Yeah!!”.

Kemudian tiba2 alam memutuskan posisiku harus begitu jelas terpapar agar semua melihat ketakberdayaanku. Semua mata tertuju pada ketakberdayaanku, memandangku dengan pandangan yang begitu ngilu. Penuh belas kasihan, seperti melihat seekor cacing kepanasan yang menggeliat mencari-cari perlindungan. Ada yang menyalahkan kenapa seekor cacing keluar dari tanah di hari yang begitu panas, ada yang memilih untuk tidak melihat karena tidak tega, tapi ada juga yang terpaksa harus melihat (tidak bisa menghindar) dan kemudian bersimpati dengan kata-kata yang menghibur; bahwa sinar matahari akan membuat tubuhnya lebih kuat, atau ketika si cacing terpotong-potong ia akan berkata bahwa itu sebuah berkah, karena setiap remah adalah calon pribadi yang utuh. Ah….semua semakin memantapkan posisiku pada titik yang begitu lemah. Sepertinya alam tak rela kalau saya bisa bertahan menghadapi badai emosi dan cobaan hidup ini. Sepertinya alam memaksa untuk melihatku terkapar terkulai dan hancur remuk.

Kadang, sering, aku protes dalam hati atas kondisi ini. Tak jarang diragukan oleh pertanyaan; why? Apakah otakku begitu berdosa sehingga alam memberiku dera siksa seperti ini?


0 komentar:

Kolom Hidayatullah.com

Ubuntu Muslim Edition

KOMIK NARUTO

Subscribe Now !!!

Sign by Danasoft - Myspace Layouts and Signs

Pagerank
Google Pagerank Checker